Showing posts with label BUDAYA. Show all posts
Showing posts with label BUDAYA. Show all posts

Monday, March 25, 2019

Lukisan Dayak Di Bawah Jembatan Kahayan

SINOPSIS LUKISAN PADA JEMBATAN KAHAYAN
 
AAA – Bagi anda yang tinggal di kota Palangkaraya tentunya niscaya tau perihal lukisan yang ada pada pundak kiri dan kanan serta bab bawah jembatan kahayan. Yap, berikut artikel perihal arti atau sinopsis dari lukisan tersebut :

Tema Karya Lukisan pada Jembatan Kahayan ialah ”TAMBUN BUNGAI” (Tambun/Naga Galang Petak Hasembuyan Belom dengan Tingang / Bungai) yang diimplementasikan dalam wujud karya seni lukis ornamen dan lukisan mural ( lukisan dinding) di Jembatan Kahayan yang masing-masing terdiri dari beberapa lukisan sebagai berikut :


1.    LUKISAN PADA PILAR/TIANG JEMBATAN
Lukisan pada pilar / tiang jembatan dengan motif “TALAWANG TINGANG” mempunyai makna perlindungan dan benteng pertahanan yang kokoh dari segala bentuk ancaman ancaman dan celaka.

2.    LUKISAN PADA CAP JEMBATAN
Lukisan pada cap jembatan dengan motif “RIAK DANUM JALAYAN” merupakan simbol air lautan luas sebagai salah satu falsafah kehidupan yang mendinginkan serta menyejukan segala sesuatu. Simbol ini merupakan doa yang bermakna biar sumber dari kehidupan merupakan rasa sejuk, nyaman dan tentram.

3.    LUKISAN PADA SISI OPRIT JEMBATAN
Lukisan Pada sisi Oprit Jembatan dengan motif “TAMBUN BUNGAI” yang terdiri dari kepala Tingang (Bungai Belom) serta Batang Garing (Pohon Kehidupan). Motif lukisan ini menggambarkan keseimbangan kosmor alam dalam aspek kehidupan dan mempunyai makna sebagai rangkaian doa biar kita selalu dijaga, dilindungi, serta dipelihara oleh alam baik alam jasmani ataupun alam rohani secara seimbang dan harmonis.

4.    LUKISAN PADA DINDING TENGAH OPRIT JEMBATAN
Lukisan pada dinding tengah oprit jembatan ialah lukisan mural dengan motif “KASIAK TAMBUN DAN BALIAN DADAS” yang menggambarkan kejantanan atay keperkasaan, hal ini sanggup dilihat dari sosok seorang leleki yang di beri judul “KASIAK TUMBUN” (keganasan Naga). Selain itu sosok perempuan Penari Dadas “BALIAN DADAS” merupakan simbol kefeminiman.  Dahulu kala Tarian Dadas (Balian Dadas) merupakan ritual pengobatan atau penyembuhan yang dilakukan oleh seorang perempuan namun pada kala kini tarian ini sudah dikemas sedemikian rupa dan sanggup dipakai untuk tarian penyambutan tamu atau program pernikahan, Kaprikornus arti dari lukisan ini ialah simbol kebahagiaan dan juga keterbukaan suku dayak dalam mendapatkan siapa saja  yang tiba dengan tangan terbuka dan ketulusan sejatan dangan falsafah “HUMA BETANG” yang arti nya dimana bumi di injak disitu langit dijunjung.


Lukisan Mural dengan Motif Ornamen Dayak Kalimantan Tengah ini juga bertujuan untuk memperlihatkan kesan Artistik yang berpengaruh dan mendalam perihal bagaimana budaya lokal kita yaitu Budaya Dayak Kalimantan Tengah yang kita cintai dan kita banggakan ini. Melalui media ini marilah kita gotong royong membuka ruang apresiasi setinggi-tingginya biar selalu menghargai dan menjaganya serta semoga memberi kesan nyata untuk kemajuan seni budaya di Provinsi Kalimantan Tengah.

#Palangkaraya

Sunday, March 24, 2019

Wurung Jue Dalam Perkawinan Suku Dayak Maanyan

Suku dayak ialah suku orisinil pulau Borneo atau Kalimantan, Suku Dayak sangat kaya akan tradisi etika - istiadat nya, misalnya dalam ritual etika perkawinan yaitu “Nyama Wurung Jue”. Wurung jue atau bahasa Indonesia nya ialah burung kuau / burung heruei.
Wurung jue dalam perkawinan suku dayak maanyan sanggup di artikan sebagai seorang mempelai wanita.

Dalam artikel sebelumnya telah saya jelaskan apa itu wurung jue, atau silahkan baca artikel

 > Burung Kuau Salah Satu Identitas Suku Dayak <.

Kenapa suku dayak menggunakan burung jue sebagi tradisi etika ialah alasannya ialah burung yang satu ini menjadi ciri khas yang ada di kalimanatan, selain buru burung ini yang indah, prilaku dari burung ini yang mengakibatkan simbol dalam perkawinan suku dayak. Burung ini merupakan perlambangan sebuah kesetiaan, kesucian, keagungan, kebersihan diri dari segala hal dan kewaspadaan terhadap ancaman-ancaman. Burung ini setia dengan pasangan nya.

Pada program “nyama wurung jue” sebetulnya ialah program puncak dari perkawinan etika dayak maanyan yang di akhiri dengan “turus tajak”, bahkan program ini ialah program paling seru alasannya ialah para wadian akan melaksanakan pertunjukan – pertunjukan yang atraktif menyerupai “namuan gunung perek” dan di tutup dengan “wadian bulat”.

Acara nyama wurung jue sebetulnya untuk mencari mempelai wanita, mempelai laki-laki yang tiba untuk mencari mempelai wanitanya. Tugas wadian ialah untuk mencari mempelai wanita, akan ada 5 perempuan yang akan di pasangkan dengan mempelai laki-laki hingga yang terakhir mempelai perempuan yang orisinil di temukan, biasanya dari pasangan pertam hingga ke empat di ambil dari penonton yang tiba (mulai dari anak-anak, remaja, ibu – ibu dan nenek – nenek, asalkan wanita). Kemudian yang terakhir ialah adalah mempelai perempuan yang sebetulnya atau wurung jue yang sebenarnya, alasannya ialah maksud dari program nyama wurung jue ini ialah untuk mencari perempuan pasangan dari mempelai pria.

Dalam ritual etika nyama wurung jue ini di saksikan oleh mantir mantir etika dan para pangulu etika berserta keluarga dari kedua belah mempelai serta para penonton yang datang. Acara selanjutnya ialah pemenuhan kesepakatan aturan etika dan turus tajak.

Itulah sedikit perihal program perkawinan suku dayak maanyan “Nyama Wurung Jue” (sangkay city tim)

#sc

Thursday, March 21, 2019

Ngayau Atau Berburu Kepala

Saya akan menyebarkan dongeng sejarah wacana “DAYAK” Pemburu Kepala (The Head Hunter From Borneo) itu kalo orang absurd bilang pada Tahun 1912.

Jauh di dalam hutan berkabut Borneo, Seorang Erteolog Inggris dan Seorang ilmuan dari Eropa yang ikut dalam ekspidisi Sejarah Borneo pada Tahun 1904 mereka pergi ke Tanah Borneo dengan atas nama raja Brooke untuk memahami kehidupan orang Dayak dengan kehidupan suku di dunia.

Dengan berani para hebat ilmuan ini memasuki dan pergi dengan bendo maupun sejata dan alat – alat yang mereka bawa mereka terus bergerak melalui kabut tebal untuk memasuki tempat hutan, dan mereka tiba di suku Dayak Iban.

Orang dayak bersenjata tajam(mandau/wadiung) mereka yang dirancang untuk sanggup ditarik dengan sangat cepat dan pecahan leher yang di utamakan sebagai titik serangan terbaik.
 Tapi ketika para ilmuan yang sudah sanggup membaur dan menghabiskan hidup di antara masyarakat Kalimantanselama 30 Tahun dari mereka mengijakkan kaki di tanah Borneo, sebagai pengamat budaya pulau besar di Asia Tenggara juga bersenjata dengan senjata kolonial yang lebih halus: kamera. yang dipakai untuk mengambil banyak gambar dan buku untuk mencatat semua wacana Pemburu kepala di kalimantan.

Sebenarnya para ilmuan tidak hanya dipersenjatai dengan kamera tetapi juga dengan buku dan pena. Mereka tiba ke Kalimantan sebagai jaksa selama pemerintahan Kekaisaran Residen Inggris di sana, para peneliti berani merekam semua yang dilihatnya dan menulisnya kedalam buku yang berjudul The Pagan Tribes of Borneo, yang diterbitkan pada tahun 1912, dan ini termasuk sebuah wacana wacana pengajuan: "Jelas bahwa Iban yaitu salah satu suku yang menerapkan Pemburu kepala dengan kata lain, yaitu, bahwa Berburu kepala, mengejar sebagai bentuk latihan, "tulis se orang ilmuan dari inggris, meskipun ia kemudian mengklaim bahwa "Mereka begitu bangga khususnya para Pemburu Kepala untuk berburu kepala dan tidak ragu-ragu untuk melakukannya dengan cara yang tidak adil."



Sebelum kita tersesat dalam kebingungan wacana apa yang dilakukan para orang Dayak dan bukan hanya merupakan sebuah olahraga berburu kepala, mari kita menciptakan terang bahwa Iban yaitu cabang dari Suku Dayak di Kalimantan. Sebuah kelompok masyarakat sopan santun Dayak dikenal sebagai teman di zaman kolonial, di bawah Dinasti James Brooke (1803-1868), raja Sarawak, yang merupakan salah satu negara pecahan Malaysia di Kalimantan. alKisah kekerasan dari suku Dayak di Laut Cina Selatan didokumentasikan dengan baik, lantaran tidak kecil untuk perang budaya mereka sangat berangasan terhadap kepentingan perdagangan pendatang dari Barat pada kala ke-19 dan 20. James Brooke dan Raja Melayu tidak memberi tempat sebelum bajak bahari tiba, namun, menyerang dan menghancurkan 800 kapal bajak laut. Iban juga menjadi populer lantaran memburu/memotong Kepala musuh, bahkan Mereka dicap sebagai aktivis praktek ibarat ini.
Para ilmuan beremuk dan menulis nya ke dalam buku  bahwa "mungkin" Suku Iban "mengadopsi [praktek pemotongan kepala] dari beberapa generasi yang kemudian hanya ... Kayans atau menggandakan suku-suku lain di antara mereka yang telah ditlakukan," dan bahwa "pertumbuhan yang cepat dari praktek di antara Iban Tidak diragukan lagi sebagian besar disebabkan oleh efek Melayu, yang telah diajarkan oleh orang-orang Arab dan dari suku lainnya "untuk memberikan atau menyalahkan awal kegiatan ini yaitu demi tempat/lahan yang diperbutkan antara suku Iban di wilayah ini.banyak daerha yang sudah kelebihan penduduk sehingga memaksa mereka untkuk mengambil tanah dari suku lain dan mempertahankan tanah tersebut dengan nyawa, dan ini yaitu satu-satunya cara untuk bertahan Hidup.

Berburu Kepala juga terang merupakan pecahan penting dari budaya Dayak. balas dendam , berburu kepala untuk ritual tradisi usang terus hidup hingga berhenti dan kemudian secara sedikit demi sedikit bercampur dengan intervensi luar - yaitu, pemerintahan raja Brooke di Sarawak dan Belanda di Kalimantan dalam 100 tahun sebelum Perang Dunia II. Awal, Pemerintah Brooke melaporkan, menggambarkan perang dari orang-orang Iban dan Kenyah - kelompok lain dari suku itu kepada siapa Berburu Kepala yaitu sebuah budaya yang penting.
Namun demikian, dengan berburu kepala itu seiring dengan berjalannya waktu,Masih cukup banyak duduk perkara bagi Para ilmuan untuk mengabadikan suku ini kedalam sebuah Buku untuk sebagai subjek. Para ilmuan bahkan melangkah lebih jauh dengan mencari klarifikasi atas kebiasaan dan keyakinan yang mungkin sesuatu yang mistis yang mendukung keganasan yang mengerikan ini, beliau memperlihatkan dua teori yang mungkin: "Bahwa praktek dari memotong kepala musuh muncul dan mengambil sebagian dari kepala itu untuk dijadikan hiasan rambut,perisai dan gagang pedang, "dan "Mengambil kepala musuh yaitu sebagai tradisi untuk menghormati/melayani roh leluhur biar arwahnya sanggup damai sehingga satu ketika sang pemotong kepala mati beliau akan disambut leluhur".

keraguan yang ditimbulkan menciptakan Para ilmuan untuk meminta proteksi pendeta atau dewan tinggi yang kontemporer dan terdapat pandangan yang sedikit berbeda pada apa yang dimaksudkan dengan Suku Pemburu kepala. Dalam keyakinan politeisme dan animisme kompleks orang Dayak, memenggal kepala musuh seseorang dianggap sebagai cara yang baik untuk membunuh roh orang yang telah dibunuh. Makna spiritual upacara juga terletak pada keyakinan bahwa memimpin orang mati. Kepala ditampilkan dalam sebuah upacara pemakaman tradisional, di mana tulang-tulang kerabat digali dari bumi dan dibersihkan sebelum dipasang di pemakaman yang aman. dan kepalanya diambil tentu berharga.

sumber : https://tanahdayaku.blogspot.com/search?q=dayak-head-hunter-from-borneo

Kesenian Banjar Tari Radap Rahayu, Banjarmasin

Kalimantan selatan mempunyai aneka macam kesenian tari tradisional yang unik. Salah satu tarian tradisional yang terkenal yaitu Tari Radap Rahayu.

Tari Radap Rahayu yaitu kesenian klasik dari Banjarmasin, Kalimantan selatan. Tarian ini merupakan salah satu tarian untuk penyambutan tamu sebagai tanda penghormatan. Nama Tari Radap Rahayu di ambil dari kata radap atau beradap - adap yang berarti bersama sama atau berkelompok. Sedangkan rahayu berarti kebahagiaan atau kemakmuran.

Tarian ini awalnya merupakan salah satu tarian yang bersifat ritual bagi masyarakat Banjarmasin. Tarian ini merupakan tarian penolak bala untuk meminta keselamatan dari segala  mara bahaya. Tari Radap Rahayu awalnya hanya di tampilkan dalam program sopan santun menyerupai perkawinan, kehamilan, kelahiran dan juga program kematian. Namun seiring dengan perkembangan tarian ini tidak hanya untuk program ritual saja, namun juga sebagai hiburan masyarakat.

Menurut sejarah nya, tarian ini berasal dari peritiwa pulangnya patih lambung mangkurat dari kunjungannya ke kerajaan maja pahit. Ketika akan memasuki sungai barito, kapal mereka pun kandas sehingga kapal mereka oleng dan hampir terbalik. Dalam situasi itu menciptakan patih lambung mangkurat memuja bantam atau meminta pinjaman pada Tuhan semoga mereka di selamatkan. Tidak usang sehabis memuja bantam, turunlah tujuh bidadari ke atas kapal kemudian mengadakan upacara beradap – adap. Setelah kapal terselamatkan, bidadari pun kembali ke kayangan dengan gerakan yang sama dengan gerakan terbang layang pada Tari Radap Rahayu.

Baca juga : Adaro Ethnik Festival

Gerakan dalam Tari Radap Rahayu selalu di awali dengan gerakan terbang layang yang menggambarkan bidadari yang turun kayangan langit dan di akhiri dengan gerakan ini lagi yang menggambarkan bidadari kembali ke kayangan. Beberapa teknik gerakan lain diantaranya yaitu limbai kibas, dandang mangapak, mendoa (Sesembahan), mambunga, alang manari, lontang penuh, lontang setengah, gagoreh srikandi, mantang, tarbang layang, mendoa, membunga, tapung tawar, puja Bantam, angin tutus.

Pada dikala pertunjukannya penari menari di balut dengan busana yang di sebut dengan baju layang dengan selendang yang di guganakan untuk menari seakan melukiskan keindahan seorang bidadari. Selain itu penari juga di lengkapi dengan cepu sebagai kawasan beras kuning dan bunga rampai di tangan kiri untuk gerakan ritual. Dalam pertunjukannya, penari juga di iringi dengan iringan musik dan nyanyian syair.

Dalam perkembangannya, Tari Radap Rahayu juga sempat mengalami kepunahan. Berawal dari berakhirnya kerajaan dwipa,tarian ini kembali di populerkan oleh seniman kerajaan banjar berjulukan pangeran hidayatullah. Namun kembali hilang ketika perang banjar dikala mengusir penjajah belanda dari Banjarmasin. Pada tahun 1955 tarian ini kembali di bangkitkan oleh seorang budayawan berjulukan Kyai Amir Hasan Bondan melalui kelompok tari berjulukan PERPEKINDO di Banjarmasin dan masih di lestarikan sampai dikala ini.

Tari Radap Rahayu masih dapat kita temukan di aneka macam program penyambutan tamu, program sopan santun dan pameran budaya. Tari Radap Rahayu juga masih di lestarikan di aneka macam sanggar kesenian di Banjarmasin, Kalimantan selatan. Tentunya banyak kreasi yang di tambahkan di setiap pertunjukannya semoga pertunjukan terlihat menarik, tapi tetap tidak meninggalkan pakem aslinya.

Baca juga : Kesenian Banjar Tari Baksa Kembang, Kalsel

Cintai budaya mu, alasannya yaitu itulah identitas mu. Tabe!

Tuesday, March 19, 2019

#Perjalananditanahdayak – Episode 5

Explore Sungai Harara 'Memancing Dan Mencari Umbut Rotan’ [BARTIM]

AAA – Pada tanggal 16 Januari 2017 kemaren, Perjalanan di Tanah Dayak melaksanakan perjalanan ke desa Harara, kec. Dusun Timur, kab. Barito Timur, Kalimantan Tengah.
Sungai Harara (Barito Timur)
Desa Harara merupakan salah satu desa tertua dalam sejarah Dayak Maanyan, yang merupakan salah satu dari Dayak Maanyan Kampung Sepuluh.

Desa ini mempunyai destinasinya sendiri yakni kawasan pemancingan. Itulah yang menjadi daya tarik bagi kami untuk menciptakan film ini

Desa ini yang terletak di pinggir/hilir sungai sirau yang ada di kota Tamiang Layang, sanggup di tempuh sekitar 15 menit dari kota Tamiang Layang melalui desa Sarapat (Eba Raya).

Inilah Film yang di buat oleh perjaka Dayak ( Sangkay City Blogs & Jaar Sangarasi Production) dalam Perjalanan di Tanah Dayak Episode 5 "Explore Sungai Harara 'Memancing Dan Mencari Umbut Rotan' [BARTIM]". silahkan di tonton!!
 
KLIK LINK INI UNTUK MENONTONYA DI YOUTUBE SECARA LANSUNG
(DISINI)

Terima kasih buat teman – teman yang mau membantu dengan sukarela dalam pembuatan film, dimana semuanya dilakukan dengan dana sendiri.
Tabe, mohon kritik dan saranya!!
Tonton juga :
#PERJALANANDITANAHDAYAK – EPISODE 6

Monday, March 18, 2019

Ritual ‘Ijame’ Dayak Maanyan Paju Epat

Pada Pulau Borneo, tepatnya di prov. Kalimantan Tengah, kab. Barito Timur akan di laksanakan ritual IJAME, mengantarkan Roh Leluhur Melalui Proses Pengkremasian. Ritual ini akan dilaksanakan pada tahun 2017.

Ritual IJAME yaitu suatu kepercayaan suku Dayak Maanyan sub Paju Epat yang baragama Kaharingan. Ritual ini merupakan suatu prosesi penghantaran roh orang yang sudah meninggal menuju Tumpuk Datu Tunyung (Sorga). Di butuhkan waktu 9 hari biar roh orang yang sudah meninggal benar-benar sanggup pulang ke Sorga atau yang disebut Tumpuk Datu Tunyung.

Balai Adat Kaharingan desa Murutuwu
Dalam Ritual ini tulang – tulang orang yang sudah meninggal akan diprosesi, dengan pembakaran tulang/pengkremasian, hal ini yaitu sebuah keunikan sendiri, lantaran di kalimantan tengah hanya ritual Ijame, dimana tulang-tulang orang yang sudah meninggal akan di bakar, sama halnya dengan program Ngaben di Bali.


Baca juga : Upacara Kematian dalam Suku Dayak Maanyan
 
Tempat dibakarnya tulang-belulang orang mati disebut PAPUYAN, kemudian ada TAMAK yang merupakan daerah penyimpanan bubuk (Mapui) setelah pembakaran tulang.

Papuyan
Ritual janjkematian ini merupakan ritual yg insidential atau tidak rutin tiap tahun pelaksanaannya, lantaran banyak persyaratan yg harus dipenuhi sebelum dilaksanakan ritual tersebut.

Dalam ritual Ijame terdapat beberapa syarat-syarat utama yang harus dipenuhi kalau ingin melakukan ritual ini, syarat tersebut berupa :
-    1 peti (RARUNG PANAMAKAN), berisikan tulang dari seorang tokoh-tokoh watak (mantir, pangulu atau damang).
-    1 peti (RARUNG PANAWU WUA SURAT), berisikan tulang dari seorang Wadian (seorang pemimpin ritual/balian).
-    1 peti (RARUNG BIASA), berisikan tulang dari seorang masyarakat biasa (turunan paju epat) yg beragama hindu kaharingan.

Tiga peti/rarung tersebut yaitu syarat wajib yang harus ada kalau ingin melakukan prosesi Ijame. Selain itu dalam ritual ini juga memerlukan biaya yang cukup banyak.

Karena persyaratan di atas maka ritual Ijame jarang dilaksanakan setiap tahun, terakhir program ijame yang pernah admin lihat yaitu pada tahun 2010 di desa Murutuwu, kec. Paju Epat, Kab. Barito Timur. Dengan waktu ritual selama 2 bulan.

Dalam prosesi IJAME ada beberapa perlengkapan yang harus di buat, yaitu :


Membuat titian dari rumah kegiatan (lewu putut) menuju Balai yang disebut tetei, mempersiapkan tarip atau papan ukir, menciptakan BALAI PISAME, menciptakan BALAI HAKEI, membersihkan jalan menuju lokasi pengkremasian (papuyan), menciptakan NUMANG TETEI yaitu titian dari balai watak ke rumah yang bersangkutan, menciptakan daerah di pinggir sungai untuk mempermudah aktifitas selama kegiatan.

Mulai dari mempersiapkan beras ketan dari balai adat, membersihkannya di sungai hingga dengan proses parmentasi sehingga menjadi Tuak (minuman tradisional khas dayak), dalam pembuatan tuak disebut dengan NGAPANRU ANING.

Baca juga : Tuak, Minuman Khas Suku Dayak

Dalam seluruh kegiatan di atas dilakukan oleh mereka (MANTIR ADAT dan PISAME) yang membantu WADIAN dalam mempersiapkan seluruh bahan-bahan ritual serta mendampingi dan membantu wadian selama ritual dilaksanakan.

Sudah jauh-jauh hari dilakukan pembentukan panitia pelaksana khususnya mantir-mantir watak dari seluruh desa di wilayah Kedamangan Paju Epat yang bertanggung jawab penuh terhadap tahapan pelaksanaan, oleh alasannya yaitu itu para mantir tersebut harus sudah memenuhi syarat khusus sesuai dengan tata aturan aturan watak yang berlaku lantaran tidak sanggup sembarang orang melakukan ritual tersebut. Para mantir watak tersebut harus sudah atau pernah ditahbiskan serta mengisi aturan watak yang berkaitan dengan tata cara pelaksanaan ritual ini.

PRA ACARA RITUAL IJAME :


Dalam ritual pra Ijame di sebut dengan BAUKA KUMANG, dalam bauka kumang tersebut ada lima kegiatan di dalam nya, yaitu :


1.    IRUMPAK LAMI merupakan hari untuk mencari kayu WUHUNGAN yang akan dibuat menjadi Papan Lami dengan jumlah 16 keping, ukuran lebar 1x10 cm dan panjang 2 meter. Tamiki Kupang jumlah 16 bilah ukuran lebar 1x10 cm dengan panjang 2,5 meter. Papan Tarip dengan jumlah 16 keping ukuran lebar 1x10 cm dan panjangnya 1 meter. Membuat bentuk Burung Garuda dan Naga dari akar LALUTUNG yang nantinya akan dipasang di ujung peti daerah meletakkan tulang-tulang yang akan dikremasi. Setelah semuanya sudah lengkap maka diletakkan di daerah khusus, alasannya yaitu papan-papan itu nantinya akan dipakai untuk menciptakan sebuah wadah khusus daerah meletakkan peti-peti (rarung) selama prosesi ritual nantinya di dalam balai adat.
2.    NGUTUH WULU merupakan hari khusus untuk mencari BAMBU sebanyak 28 bilah untuk pembuatan bab dari daerah ritual pengkremasian/pembakaran tulang yang nanti akan diikatkan disekeliling bab dasarnya. 28 bilah bambu juga dicari lagi untuk menciptakan gelanggang daerah tubruk ayam (manguntur), semuanya dengan ukuran panjang 5-6 meter. Setelah semuanya lengkap kemudian di bawa ke balai adat.
3.    IRUMPAK BIHARA pada hari itu khusus mencari kayu KAHUI untuk dibuat menjadi daerah ritual pengkremasian secara utuh. Kayu tersebut di potong menjadi papan bihara sebanyak 28 buah yang dibuat menjadi atap daerah pengkremasian. Kayu balabau dan dadalungan dengan ukuran 2 meter masing-masing sebanyak 4 buah yang nanti akan dijadikan rangkanya. Lalu Ulu Kurung 1 bilah dengan ukuran lebar 10 cm sepanjang 1 meter. Seperti yang lainnya, setelah lengkap eksklusif dibawa ke balai adat.
4.    IRUMPAK LIMAR, tetap pergi ke hutan untuk mencari kayu RARUNG jenis kayu Jelutung yang nantinya dipotong untuk dibuat menjadi peti (rarung) daerah meletakkan tulang yang akan dikremasi, sebagian lagi dibuat menjadi papan limar, papan papansa, papan kalinen, papan Kakisi hante, papan kakisi halus yang kesemuanya itu bab dari daerah meletakkan peti tadi. Apabila bahan-bahan tadi dirangkai dan dibuat menjadi daerah meletakkan rarung disebut dengan IDARAN.
5.    MAKAN UMPUI DAN IBUBUHAN, merupakan suatu ritual tolak bala sebelum ritual Ijame dilaksanakan. MAKAN UMPUI yaitu ritual tolak bala terhadap roh-roh halus yang mungkin akan mengganggu selama proses pelaksanaan ritual Ijame nantinya, sedangkan IBUBUHAN yaitu ritual tolak bala terhadap roh sejenis penyakit-penyakit yang juga mungkin mewabah ke masyarakat umumnya selama kegiatan.

Demikianlah rangkaian kegiatan beberapa hari menjelang ritual puncaknya nanti dan setiap harinya sebelum dan setelah melakukan kegiatan tersebut, para pelaksananya kumpul di dalam balai untuk makan bersama yang disebut dengan MIHANRAWAI. Dalam pra ijame di atas dari poin 1 hingga 4 di laksanakan oleh Mantir atau Panitia, dan untuk yang ke 5 secara khusus akan dilaksanakan oleh Wadian.

UPACARA RITUAL IJAME

Berikut daftar kegiatan dalam ritual ijame yang dilaksanakan dalam waktu 9 hari :
1.    TARAWEN, pada hari pertama yaitu pembuatan peti (Rarung), kemudian dilakukan ibungkat menggali tulang atau jasad dari pemakaman, tulang dibersihkan dengan minyak tanah dan dikumpulkan didalam rarung kemudian digendong menjuju balai.
2.    NI’IT UWEI, pada hari kedua yaitu kegiatan ini utamanya yaitu Ni’it Uwei atau Meraut Rotan untuk dipakai dalam tubruk ayam
3.    NARAJAK, pada hari ketiga yaiu dilakukan di situs papuian yaitu menyusun bambu sehingga membentuk pramid (tarajakan)
4.    MUARARE, pada hari ke empat yaitu mengayam bambu, yang disematkan di tarajakan
5.    NAHU, pada hari kelima yaitu yaitu proses mengasapi kayu biar menjadi hitam yang nantinya akan diselipkan juga ditarajakan
6.    NYURAT, pada hari ke enam yaitu proses menciptakan gambar untuk atap papuyan
7.    NANSARAN, pada hari ketujuh yaitu menciptakan teras atau lalaya untuk papuyan
8.    MUNU, pada hari kedelapan yaitu Kerbau diikat dibalontang dan akan di tombak dalam proses pengorbanan.
9.    MAPUI, pada hari kesembilan yaitu proses terakhir ijame yaitu membakar tulang, tulang yang dibakar yang sudah membara tersebut dikumpulkan didalam gong dan ditaruh didepan balai yang akan ditangisi oleh pihak keluarga dan jadinya dicuci dengan air kelapa (tamanung) kemudian diantar ke Tamak.

Setelah program ijame selesai, maka program selanjutnya yaitu NGANREI BALAI yang dilaksanakan selama 7 hari 7 malam.

Itu tadi sedikit yang admin ketahui perihal ritual Ijame Kaharingan dari Dayak Maanyan di kabupaten barito timur.

Sebagai info, ritual Ijame akan dilaksanakan di desa murutuwu pada tanggal 10 juli hingga 03 agustus 2017.

Baca juga : Kegiatan dan Jadwal IJAME di Desa Murutuwu 2017

Baca juga : Perjalanan ke Desa Telang Siong

Terakhir, semoga dengan adanya artikel ini sanggup membantu kita untuk mengetahui kebudayaan dayak, khususnya dayak maanyan paju epat.

Mohon maaf kalau ada typo atau kesalahan dalam artikel ini, mohon koreksi, kritik, dan saran. Tabe, andri arai atei!

Saturday, March 16, 2019

Barito Timur Dalam Potret Pariwisata

Ada 14 potensi pariwisata gres atau masih belum banyak diketahui oleh Masyarakat atau Wisatawan. 14 potensi pariwisata tersebut, semuanya beradi di Kabupaten Barito Timur, Provinsi Kalimantan Tengah, Indonesia

Seperti yang di katakan Barito Timur Dalam Potret Pariwisata” Potensi Pariwisata yang di miliki Kabupaten Barito Timur, tidak kalah dengan wilayah lainnya yang ada di Kalimantan Tengah, meskipun kawasan ini tidak mempunyai wisata laut (kelautan) menyerupai Kotawaringin, Seruyan, dan Sukamara. Namun, wisata lain masih sanggup kita temukan dengan cara yang berbeda dan begitu khas.

Ada banyak orang yang bertanya, Barito Timur? Letak sungai Barito nya ada dimana? Tentu pertanyaan ini menarik untuk kita jawab, bahwa benar kabupaten kita tidak dialiri pribadi oleh Sungai Barito. Tetapi, perlu kita ketahui bahwa sungai-sungai yang ada, pribadi bermuara ke sungai barito dan sungai ini pribadi dialiri dari wilayah pegunungan yang ada salah satunya yakni, Sungai Karau. Sungai ini mengalir dari wilayah Gunung Kasali yang merupakan Pegunungan tertinggi di Kabupaten Barito Timur.

Desa Magantis, Desa Harara, Desa Pulau Patai, Desa Juru Banu, Desa Tampu Langit, Desa Wuran, Desa Ipu Mea, Desa Muara Palantau, Desa Muara Awang dan Desa Mawani ialah sebagian desa yang sanggup kita kelola menjadi wilayah desa wisata susur sungai memakai klotok (Perahu Mesin), tempat-tempat ini menyimpan keunikan tersendiri. Di Barito Timur, kita mempunyai banyak desa yang sanggup dikelola bersama, itu berarti potensi wisata susur sungai menjadi salah satu potensi yang sangat menjanjikan yang kita miliki.

Barito Timur mempunyai luas wilayah 3.834 m2 dan jumlah penduduk 96.820 jiwa (2010), serta terbagi dalam 10 kecamatan menimbulkan kabupaten ini kaya akan sumber daya alam dan kebudayaannya yang sangat tinggi. Selama ini kita mungkin hanya mengetahui perihal objek wisata Rumah Betang (Pasar Panas), Makam Puteri Mayang (Jaar), Wisata Taman Anggrek (Murutuwu), Lewu Hante Soeta Ono (Siung Telang), Riam Kendong (Sibung), Liang Ayah (Batu Sahur), Bendungan Karau (Batu Putih) dan Bendungan Tampa ( Tampa).

Kita tidak mengetahui bahwa potensi pariwisata yang kita miliki sangat banyak, bahkan lebih daripada itu. Dalam pengembangan Pariwisata kita wajib memahami perihal Sapta Pesona yakni : Aman, Sejuk, Indah, Kenangan, Bersih, Tertib dan Ramah Tamah dimana setiap objek wisata yang ada harus mempunyai syarat-syarat utama ini. Namun disisi lain insfrastruktur jalan ditambah fasilitis umum yang tersedia juga menjadi salah satu pendorong utama perkembangan Pariwisata yang ada.

Dibawah ini ialah daftar 14 Potensi Pariwisata tersebut :

Bantai Nangun, Dusun Tengah, Barito Timur
1.    Punsak Teletrobalo (Desa Ampari Bura/Bahalang, Kec. Patangkep Tutui) BACA!!
2.    Punsak Marintis (Desa Ampari Bura/Bahalang, Kec. Patangkep Tutui) BACA!!
3.    Goa Lunting (Desa Ampari Bura/Bahalang, Kec. Patangkep Tutui) BACA!!
4.    Ranu Metak Makolong (Desa Ampari Bura/Bahalang, Kec. Patangkep Tutui) BACA!!

5.    Punsak Isa Ampari (Dusun Ampari Bura Dalam, Ds. Ampari Bura, Kec. P. Tutui) BACA!!
6.    Punsak Ngakiak (Dusun Gunung Karasik, Ds. Apar Batu, Kec. Awang)
BACA!!
7.    Ranu Metak Karasik (Dusun Gunung Karasik, Ds. Apar Batu, Kec. Awang) BACA!!
 8.    Riam Paku (Dusun Gunung Karasik, Ds. Apar Batu, Kec. Awang) BACA!!
 9.    Riam Sentaki (Dusun Tange Lana, Ds. Kalamus, Kec. Paku) BACA!!
10.    Ranu Metak Bura (Dusun Bura, Desa Kalamus, Kec. Paku) BACA!!
11.    Ranu Metak Riam Lumui (Desa Apar Batu, Kec. Awang ) BACA!!
12.    Riam Watu Mehai (Desa Gandrung, Kec. Paku) BACA!!
13.    Ranu Metak Ono (Desa Gandrung, Kec. Paku) BACA!!
14.    Pegunungan Kasali (Desa Muara Awang dan Desa Sumber Garunggung, Kec. Dusun Tengah) BACA!!

Dari semua objek wisata yang pernah penulis kunjungi, problem utama yang menjadi penghambat pariwisata kita ialah problem transportasi jalan menuju desa/lokasi, problem akomodasi umum yang disediakan di objek wisata, kurangnya media umum (internet) dimana hal ini menjadi syarat utama mempublikasikan wisata alam yang kita miliki dan selanjutnya harus ada dorongan cepat pemerintah untuk menawarkan kesadaran wisata kepada masyarakat yang berada di wilayah objek tersebut. Hingga pada balasannya perlu kolaborasi yang baik antara pemerintah dan seluruh komponen masyarakat biar pengembangan pariwisata sanggup berjalan dengan baik. Maka dengan demikian ekonomi masyarakat setempat akan meningkat dan kesejahteraan akan merata. Tabe Ipulaksanai! S.D.G

Penulis : Rico Irwanto NDDB
Editor : Sangay City